Pengemis Terkaya di Indonesia

September 16, 2009 at 6:33 am 36 komentar

Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

5373large

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004. *** Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap. Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya. Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga. Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas.

Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya. Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya. Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng. Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri. Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan…

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari. Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya. Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya. Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti…

Sumber

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

Arti Ciuman Menurut Para Dosen Dimana ada Kasih Sayang, disitu ada Kekayaan dan Kesuksesan

36 Komentar Add your own

  • 1. Rossa  |  September 17, 2009 pukul 5:53 am

    buseeeettt.
    gue mau jd pengemis kalo bisa sekaya itu.
    eh, gak jd deng.
    gue gak mau terlihat hina di mata tuhan dan para makhluknya.

    Balas
  • 2. achoey  |  September 17, 2009 pukul 7:28 am

    jadi miris ya mengenal cara ikhtiar Cak To
    Moga kita masih bisa enjaga harga diri kita
    Dengan bekerja keras, serdas dan ikhlas

    Balas
  • 3. Yan  |  September 17, 2009 pukul 5:54 pm

    Ada fatwa MUI bahwa mengemis itu haram. Gimana yaa makan dengan uang haram buat keluarga. Apa Cak Tato ngak punya agama? Bekerja dan usaha dengan tenaga dan jasa yang Cak To punya dan insyaflah.

    Balas
  • 4. ismail  |  September 17, 2009 pukul 8:16 pm

    wah hebaaaaaaaaaaat, cerdas , mntap,

    Balas
  • 5. Ardi  |  September 17, 2009 pukul 10:09 pm

    Orang ini makan dan “beramal” dari hasilnya menipu orang, memanfaatkan rasa iba orang lain. Drmn ceritanya bs halal? menyedihkan.

    Balas
  • 6. Yogi  |  September 18, 2009 pukul 1:18 am

    tangan diatas selalu lebih baik……kemudian apa yang dia dapat, punya mobil namun segan untuk diketahui…….apa enaknya coba, setuju dengan Achoey walau susah payah….kerja keras, cerdas dan inkhlas, Ridho Allah tujuannya….mantap

    Balas
  • 7. seNanDung  |  September 18, 2009 pukul 4:16 am

    Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya. Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti… —— > trus ni hukum nya apa yaa … dari uang hasil mengemis, ???

    Balas
  • 8. ANAK BGS  |  September 18, 2009 pukul 7:20 am

    itu tidak halal pak..siapa blg halal

    Balas
  • 9. raihanaunty  |  September 18, 2009 pukul 7:34 am

    Ini nih…yang menyebabkan kita sulit membedakan antara pengemis “profesi” sama pengemis yang memang membutuhkan uang utk menyambung hidup (apa bedanya ya… 🙂 )

    Balas
  • 10. pul  |  September 18, 2009 pukul 9:08 am

    Cak To blang kerjaannya halal? ingat tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah.lebih baik Cak TO ciptakan usaha yg lain misal,bverdagang dgn 54 anak buah.jangan kau bina anak bangsa ini menjadi pengemis….

    Balas
  • 11. joez  |  September 18, 2009 pukul 9:53 pm

    enak sih ky gt,tp gw ngeri..kt Ustadz org ngemis itu sm aj ngumpulin bara api diNeraka.

    Balas
  • 12. wahyu  |  September 18, 2009 pukul 10:52 pm

    seorang yang tidak menjaga harga dirinya ketika hidup di dunia, kelak di padang mahsyar akan menemui Sang Penciptanya tanpa memiliki wajah..

    Balas
  • 13. Muhammad Sandi Ramdhani  |  September 19, 2009 pukul 7:35 am

    ya allah sungguh,,,,malang

    Balas
  • 14. anak mgs  |  September 20, 2009 pukul 1:33 am

    udah kaya kok ngemis? dari pda ngemis mbok ya buka usaha lain yg halal knapa? yg kasihan tuh anak buahmu? tau gk? mo jd apa bangsa ini klo semua orang kamu ajarin ngemis? uang haram tuh..

    Balas
  • 15. Joko  |  September 20, 2009 pukul 5:20 am

    Iya cak to, mumpung masih punya modal buka usaha yg halal, bikin bengkel atau buka supermarket.

    Balas
  • 16. raja pengemis  |  September 21, 2009 pukul 4:19 am

    Sudahlaah cak to..kamu sudah banyak dihina mending kamu nurutin nasehat saudara2 kita yang kasih comment untuk mencari nafkah dengan jalan yang lebih mulia

    Balas
  • 17. Adhi  |  September 21, 2009 pukul 7:17 am

    Inilah gambaran hidup yang sudah keblinger (terbolak-balik). Yang harusnya haram dianggap halal. Bagi para insan yang masih berhati nurani, marilah kita sadar bahwa amal apapun yang dilakukan jika dimodali dari mengemis dan menipu dengan berpura-pura jadi orang miskin AKAN TERTOLAK di hadapan Allah. WAHAI KAUM MUDA INDONESIA BERPIKIRLAH YANG JERNIH. JANGAN PERNAH PUNYA NIAT DAN CITA-CITA SEPERTI CAK TO

    Balas
  • 18. edda  |  September 22, 2009 pukul 4:03 am

    Subhanallah, bsa ya pengemis kyak gt.
    Yah rezeki org mah beda2, mgkn emg sudah jalannya kyak gt

    Balas
  • 19. yoyok  |  September 23, 2009 pukul 6:59 am

    dasar orang madura, to….to…

    Balas
  • 20. Dik  |  September 24, 2009 pukul 4:06 am

    Wah perlu dipertanyakan nih angka kemiskinan dr bpls

    Balas
  • 21. NebengerZ  |  Oktober 7, 2009 pukul 7:35 pm

    hoi….pembaca…emangnya comment kalian tuh dibaca sama si cak to, buka internet juga kaga pernah, dia

    wkwkkwkwk….

    tapi tetap setuju, berusaha dulu sekuat tenaga, kalo kepepet baru ………usaha lebih keras lagi.

    Balas
  • 22. Sianipar  |  Oktober 8, 2009 pukul 4:12 am

    wuidih jangan sampe d . .

    Balas
  • 23. andik  |  November 2, 2009 pukul 12:10 pm

    sruh kisruh dik dik cak to iku!! lha masak ndak merasa dosa menjalani itu semua? masya Allah..ckckck

    Balas
  • 24. Biba  |  November 30, 2009 pukul 8:03 am

    Astaghfirullahal’adhim,,,,,,,,,,,,,,
    Mengemis kok jd profesi!!

    Balas
  • 25. yuki  |  Januari 8, 2010 pukul 8:58 am

    Heh,,, belum seberapa penghasilan nya tuh… mak gue ja ngemis dapet 10 juta per bulannya.. sok kaya lo cak to…

    Balas
  • 26. cuwy  |  Januari 8, 2010 pukul 8:59 am

    cak to goblok tu… gaptek kaleee… ha ha ha…

    Balas
  • 27. radenn  |  Maret 6, 2010 pukul 11:31 am

    emang ngemis halal???

    Balas
  • 28. amelia  |  Maret 27, 2010 pukul 6:49 am

    sodara semuanya jgn lah kita terjebak dalam menghakimi orang…..biarlah beliau melakukan hal seperti itu krn yg pasti hati nuraninya akan berbicara sendiri pada dirinya so biar hanya Tuhan yg menentukan n menjadi hakim atas semunya ook

    Balas
  • 29. andri  |  Maret 27, 2010 pukul 3:37 pm

    HARAM ITUUUH

    Balas
  • 30. melly  |  April 26, 2010 pukul 9:22 am

    parah bngt..

    naek haji dari hasil nipu org

    Balas
  • 31. ifa yuinis  |  Mei 26, 2010 pukul 8:16 am

    gilak tuh prcuma jja kaya tapi mnta 2 klo gitu tkang kue lebih kaya soalny kadang tukang kue yg bersedkah

    Balas
  • 32. ibenk  |  Mei 31, 2010 pukul 4:49 am

    ya udah gue mo alih profesi ke pengemis . .

    Balas
  • 33. neo  |  Mei 31, 2010 pukul 7:35 am

    semoga ditunjukkan jln yg lurus

    Balas
  • 34. warung kopi plus  |  Juni 25, 2010 pukul 7:56 am

    hemmm…., jangan saling mencela…, masing2 menanggung dosa dan pahala dari apa yang diperbuatnya sendiri2…, belum tentu “cak to” lebih buruk dari kalian, dan sebaliknya…

    semoga kita semua selalu bersyukur akan rahmat dan karunia’Nya…, amin.

    Balas
  • 35. ophee  |  Juli 27, 2010 pukul 2:43 pm

    wuihhh… bakalan tutup kampus di dunia klo ngemis uda kaya..

    Balas
  • 36. erra  |  September 22, 2010 pukul 10:15 am

    Halal haram urusan Tuhan. Tapi secara logika berarti Cak To telah menutup rejeki bagi orang-orang miskin lain yang sebenarnya bisa dibantu dengan uang yang masuk ke kantongnya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


AL MANAK

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Arsip

Musafir

web stats

Map

Visitor Country

Blog Stats

  • 118,210 hits

Banner


%d blogger menyukai ini: